Memasak memang awalnya seperti keharusan. Keharusan untuk memberikan asupan terbaik untuk keluarga. Keharusan menjaga hanya makanan halal yang dikonsumsi yang terkasih. Tentunya keharusan menjaga kantong suami agar tidak cepat tipis karena jajan makanan di luar. Tapi setelah keharusan demi keharusan dijalani akhirnya memasak seperti sesuatu yang rasanya dibutuhkan, bukan hanya oleh anggota keluarga, tapi dibutuhkan oleh saya secara pribadi. Saya membutuhkan memasak untuk menuangkan ide-ide yang melintas di alam imaginasi saya. Saya membutuhkan memasak untuk juga membuat saya bahagia. Kenapa bahagia? sederhana saja, saya bahagia ketika suami dan anak saya makan dengan lahap hasil masakan saya. Bahagia ketika melihat muka meringis mereka karena keasinan, kepedasan atau malah hambar. Dan Saya membutuhkan memasak untuk membuang emosi emosi negatif. Entah perasaan kesal, jengkel, marah, cemburu, ataupun lelah rasanya bisa berangsur mereda dengan memasak. Karena si panci, penggorengan, kompor and the gank, gak bisa protes kalau saya pukul-pukul.
Lah terus apa hubungannya minat saya dengan memasak dengan blog ini? Iya juga ya. Sebenarnya ya karena ternyata ada dunia lain *et dah bahasanya* di luar dunia memasak yang saya sukai juga. Ya dunia tulis menulis ini. Maka agar selaras, serasi dan seimbang, lahirlah blog Pawon Oishii ini.
Asli masakan saya sih ga enak-enak amat, biasa, pake banget. Cukup lah nilainya kalau kata si Darling di rumah. Tapi saya sebagai manusia tentunya tidak mau berdiam diri saja. Sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal saya maju dengan belajar. Nah! blog ini sabagai wadah saya merekam jejak proses belajar saya.
Tapi selain masak memasak, saya juga ingin membagi hal-hal lain yang saya pelajari tentunya. So selamat menulis dan membaca (pengingat bagi saya ini mah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar